Residensi

HotWave #1

Tim Woodward di studio residensi

Tim Woodward di studio residensi

Lotte Geeven (Belanda), Restu Ratnaningtyas (Indonesia) dan Tim Woodward (Australia) adalah tiga perupa muda yang menjalani program masa tinggal (residency) HotWave #1, mulai 1 September sampai dengan 30 November 2010, di Rumah Seni Cemeti Yogyakarta. Selama tiga bulan waktu residensi tersebut, mereka bekerja, berdiskusi dan mengembangkan ide-ide segar yang mereka wujudkan ke dalam karya seni rupa kontemporer mereka. Pada bulan pertama mereka mulai membuka diri dan menjajagi dunia kesenian Jogja dengan  mendatangi secara langsung kantong-kantong kerajinan dan sentra kebudayaan, mereka juga diajak untuk mengenal lebih dalam dengan bertemu seniman dan komunitas lokal serta melihat berbagai event kesenian dan kebudayaan di Jogja.

Pada bulan kedua, fokus mereka diarahkan untuk mengadakan sebuah aktivitas kesenian yang melibatkan publik sebagai sebuah edukasi kesenian kepada masyarakat. Sebuah presentasi tentang kiat-kiat menjajal residensi dibawakan oleh Lotte Geeven di Taman Budaya Yogyakarta. Dalam Presentasi tersebut Lotte mengajak dan memberikan arahan kepada seniman-kurator muda untuk mengikuti jejaknya dalam mengembangkan proses berkarya, yakni mengikuti program residensi. Tim Woodward, memilih untuk membuat sebuah pameran dengan konsep ”Galeri Seribu Rupiah”. Tim mengundang seniman dan anak muda untuk membuat patung dengan bahan dasar makanan. Patung-patung tersebut lantas diarak ke lapangan parkir supermarket Super Indo untuk kemudian dipamerkan di sana. Dalam workshop ”Super Indo Sculpture Park” tersebut, para peserta dapat memamerkan hasil karya mereka hanya dengan membayarkan uang Rp 1.000 sebagai ganti sewa ruang pameran. Sedangkan Restu Ratnaningtyas yang dalam residensi menemukan bahwa terjadi banyak translasi dalam komunikasi mereka, membuat sebuah workshop bertajuk ”Translate and Drawing Party”, membiarkan para peserta bermain dengan translasi dari kata ke pikiran, pikiran ke gambar.

Tiba waktunya untuk mereka menyajikan sebuah pameran sekaligus presentasi dari karya-karya mereka dalam mengikuti residensi ini. Lotte Geeven yang setiap paginya menyusuri jalanan dan petak-petak tanah di kota ini, mulai merasa menjadi bagian dari kota yang dulunya hanya berfungsi sebagai ornamen tempat tinggal. Lotte bagaikan seorang tukang cerita ulung yang mengkoleksi detail-detail kota dan menyimpannya kemudian pada akhirnya mengolah dan membeberkan semua detail dalam pola dan peta yang indah seperti dongeng. Dalam karyanya, Lotte mengunakan bunga segar, daun-daun kering, bola plastik, foto, bahkan styrofoam yang dipenuhi dengan ratusan anak panah kecil. Dalam pameran karyanya ini, Lotte ingin membangun sebuah domain mental abstrak yang membuat penonton kewalahan, menjadi tidak stabil bahkan terperangah seperti dirinya sendiri:

‘This city doesn’t exist, only in the mind, and only in form language. This is the place where we’ll meet.

A journey to a far metropolis starts in my head as a book; she grows and gets intertwined with the everyday until I meet her counter image; this encounter into the heart of distance is the beginning of my story. When I arrive the city functions as a décor but when time goes by I slowly become part of her. This fading of the border between identity and location I want to tell about in my work. To stimulate the shifting of this border I make endless walks through the city with all my senses sharpened, this way the city wins terrain in me and I in her; this is crucial. During these walks I make notes of ephemeral background details I come across, they become the main ingredients of my story.

There are many ways of storytelling; I am researching storytelling with only these background details: the information in between. The way a whole city can unfold from a single detail and a landscape can grow around a single scent.

With my two-dimensional works I want to construct in base-tones the layers and coulisses of this scent. Here notes of small background details from the place I’m staying grow rank in patterns and maps. The repetitive character of patterns I make use of, is the type of image that acts as a landscape you look over without focussing. An image that functions as a Trojan Horse: something seemingly benignant that plants, with the power of spell, a story in your mind through a backdoor. In my three-dimensional work, thinking as a draws man I build props that create the front layers of the coulisses, while building I try to construct an image vocabulary in the dialect of me and the city I am at; here the shape, material, intensity and size have to justify the character of the meeting with the place. In the final stage I’m bringing together the coulisses, doing this I carefully try to create a net of landmarks that together tell you the edges and corners of a mystical border area between me and the city. This way I want to build an abstract mental domain where the viewer is left as overwhelmed, instable ore surprised as I was.”
– Lotte Geeven


Berbeda halnya dengan Lotte, Restu Ratnaningtyas bermain laksana pendongeng, yang bercerita tentang kisah kehidupan sehari-hari manusia dari dalam studio residensi cemeti. Dalam karyanya ”The Dining Room Tragedy”, Restu menampilkan figur orang yang berbaring di bawah meja makan dengan berbagai barang dan makanan tergeletak di sampingnya. Instalasi yang terbuat dari cat air di atas kertas yang di tempel di tembok ini menggambarkan sebuah scene kehidupan harian yang dilebih-lebihkan oleh Restu. Bahkan, Restu mengajak pangunjung untuk berinteraksi dengan mengirimkan skenario terburuk yang mereka pikirkan ketika melihat karya tersebut. Bagi Restu, sudah banyak sekali tayangan di televisi yang menampilkan adegan kehidupan harian yang hiperbolis, sehingga kali ini  dia bermaksud memberi kesempatan bagi pengunjung untuk membuat skenario hiperbolis mereka sendiri terhadap karyanya. Sebuah scene lain dari kehidupan ditampilkan oleh Restu dengan proyeksi animasi di dalam sebuah kubus putih yang mengambang. Karya yang berjudul ”Seek and Peek” tersebut membuat penonton harus melongok ke dalam kubus dan mengintip seseorang berkepala kelinci sedang tertidur di atas kasur sambil menarik sesuatu dari mulutnya.

Sedangkan dalam proyek presentasi ini, Tim Woodward mencoba menampilkan sebuah cerita di balik kopi luwak. Tim yang meneliti hewan luwak dan habitatnya, dari museum biologi ke pasar satwa dan dari perkebunan kopi ke Ebay, membuat sebuah lemari kabinet kaca berbentuk piramida dengan hewan luwak yang telah diawetkan di dalamnya. Karya yang berjudul ”Museum of the Luwak” ini didedikasikan kepada hewan luwak yang telah berjasa membuat cita rasa kopi yang terkenal karena kelezatan dan kemahalannya.  Dalam karya tersebut Tim bekerja sama dengan Museum Biologi untuk menampilkan hewan luwak koleksi museum. Setelah pameran usai, karya tersebut akan disumbangkan kepada Museum Biologi. Di ruangan lain, Tim membawa kotoran luwak dan menyandingkannya dengan botol-botol keramik serta drawing akrilik di atas MDF dalam karya ”Organs and Alchemy”. Tim juga membuat beberapa instalasi video yang mempertunjukkan kehidupan pekerja yang memeras keringat demi keberlanjutan 'alkemi' yang menjadi mata pencaharian utamanya.  Kontradiksi-kontradiksi bahwa Kopi luwak yang lezat dan mahal tersebut sebenarnya berasal dari fermentasi kotoran luwak serta buruh yang bekerja keras demi keberlanjutan kotoran luwak yang menunjang hidupnya, dibawakan oleh Tim dengan menghadirkan langsung pahlawan kopi luwak yang sebenarnya.  Tim seperti sedang melakukan uji pemahaman tentang sistem nilai yang pada akhirnya menjadi sesederhana kepentingan ekonomis semata; hal yang nampak analog dengan perlipatan nilai pada karya-karya fetish senirupa.

Pameran berlangsung di dua tempat, Rumah Seni Cemeti (24 Nov – 1 Des 2010) Jl. D.I. Panjaitan no. 41 Yogyakarta 55143  dengan jam buka: 9.00 – 17.00, Minggu dan Senin tutup, dan Jogja National Museum, Lantai I, (24-28 Nov 2010) Jl. Amri Yahya no.1 Wirobrajan, Yogyakarta 55181 dengan jam buka: 9.00 – 17.00.  Disamping pameran juga akan diadakan Tur Publik pada hari Kamis, 25 November 2010 pukul 16.00, mulai dari Jogja National Museum dan berakhir di Rumah Seni Cemeti. Juga akan ada Diskusi pada Selasa, 30 November 2010 , pukul 19.30 di Rumah Seni Cemeti.

HotWave #1 merupakan program residensi yang diselenggarakan oleh Rumah Seni Cemeti bekerja sama dengan Heden – Den Haag, Belanda, and AsiaLink, Australia. Program ini didukung oleh Heden - Den Haag, Hivos – Jakarta, Program Pengembangan & Kebudayaan, Kedutaan Besar Belanda - JakartaAsialink – Australia, Arts Queensland, dan Australia - Indonesia Institute.