Residensi

Landing Soon #7 | Wimo Ambala Bayang, Ellen Rodenberg & Maarten Schepers

'Belanda Sudah Dekat!', 2008, Wimo Ambala Bayang

'Belanda Sudah Dekat!', 2008, Wimo Ambala Bayang

1 Mei - 31 Juli 2008

Maarten Schepers lahir di Rotterdam, 1957, menyelesaikan studi di Royal Academy of Visual Arts, Den Haag.
Struktur kota adalah fokus perhatian perupa Maarten Schepers. Ia tertarik mengamati bagaimana masyarakat membangun dan menghidupi kota, dan sebaliknya: seperti apa kota dibentuk. Karyanya banyak dipengaruhi oleh bangun bidang arsitektural. Berada di Yogyakarta, perilaku orang-orang di wilayah antara tradisi dan modernitas membuatnya tergelitik; ia melihat situasi transisi ini sebagai pergerakan kinetis yang sekaligus hidup berdampingan di dalam kota. Yang tradisional dan yang modern bukan lagi identitas yang dianggap penting, bahkan terbuka kemungkinan bagi terjadinya proses asimilasi antara keduanya.
Selama periode residensi, Maarten Schepers membuat serangkaian karya berpasangan yang menyandingkan tradisi dengan modernitas tetapi tanpa tendensi untuk memperbandingkan. Karyanya, ’House of Eggs’, mengandung pertanyaan yang selalu harus kita renungkan dalam situasi perubahan: berjalan terus seturut konsekuensinya, atau berputar arah dan kembali ke cara lama. Maarten juga terpukau oleh kegelapan kota Yogya dan bagaimana di sini sistem penerangan tidak hanya dilihat dari segi fungsionalnya, tetapi juga dipertimbangkan sebagai aspek dekoratif dari kota. Ia ’bermain-main’ dengan cahaya dan mengabadikannya dalam karya-karya video.

Ellen Rodenberg, lahir di Amsterdam, 1955, menempuh pendidikan di Koninklijke Academie van Beeldende Kunsten, Den Haag.
Ellen Rodenberg adalah seniman lukis yang menitikberatkan perhatiannya pada gagasan konstruksi dan dekonstruksi simbol dan makna. Mainan adalah salah satu sumber inspirasi dan ikon yang digunakannya untuk melukiskan pemikiran tentang kebudayaan manusia. Sepanjang residensi, perupa dengan ketertarikan pada sejarah, relijiositas, dan pendidikan ini bergulat dengan mainan-mainan plastik yang ’kitschy’, sembari menyulut pertanyaan tentang budaya mengkopi yang banyak ia temukan di Yogyakarta. Meniru, pada tataran tertentu sebenarnya adalah peradaban tertua manusia dan bagian dari kreatifitas itu sendiri. Tetapi sejauh mana sikap ini ikut andil dalam proses penciptaan seseorang adalah pertanyaan yang seharusnya muncul kemudian. Karya instalasi Ellen Rodenberg adalah jelajah pencarian jawaban sekaligus koleksi impresinya akan perilaku manusia: di Yogyakarta, di negeri asalnya Belanda, dan di sisi mana saja dari dunia.

Wimo Ambala Bayang lahir di Magelang, 1976, menempuh studi di Jurusan Desain Interior Modern School of Design dan Jurusan Fotografi Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
Wimo Bayang adalah seniman media rekam dengan cara pandang yang unik terhadap kebudayaan. Karya-karyanya tidak dibuat dengan pretensi untuk mengkritik, tetapi membuat kita harus memikirkan ulang kebiasaan-kebiasaan yang selama ini seolah-olah telah ’ada dengan sendirinya’. Sejarah dan fakta, yang minor ataupun mayor, adalah aspek penting yang selalu dipertimbangkan dalam proses kreatifnya.
Residensi dan interaksi dengan seniman Belanda di Cemeti memancingnya untuk bermain dengan tafsir visual jenaka terhadap lelucon lama yang merefleksikan etos hidup masyarakat kita: ’Tenang, Belanda masih jauh!’. Ia mengundang kelompok-kelompok yang telah dipilih dengan seksama untuk berpartisipasi dalam karyanya dan membuat seri foto bertajuk ’Belanda sudah Dekat’. Mengajak kelompok-kelompok itu berpose dengan senjata-senjata mainan plastik, karya ini dibuat seolah-olah tak hanya sebagai antitesis, tetapi juga perlawanan terhadap sikap santai dan bermalas-malasan, yang masih kerap dijumpai di sebagian kalangan masyarakat kita. Ia menamai kelompok-kelompok ini ’Angkatan Keenam’, ’Angkatan Ketujuh’, dan seterusnya, sebagaimana ’Angkatan Kelima’ dibentuk di Indonesia tahun 1950-an.