Pameran

First Sight in Jogja

04 Juni 2016 - 15 Juli 2016

Marco Rios, Christine Nguyen, Lee Wan, Angki Purbandono, Heri Dono, indieguerillas

{titlei}

Angki Purbandono mempresentasikan karya di studionya

 

‘First Sight in Jogja’ adalah sebuah pameran yang merupakan puncak dari pengalaman kolaboratif antara enam seniman internasional yang beragam. Pameran ini bermaksud mendorong tiap seniman supaya terlibat dengan seniman-seniman lainnya yang kurang akrab dan untuk merenungkan sejarah-sejarah yang tak terbatas dan nuansa-nuansa budaya yang telah mereka koleksi dan produksi. Selama proyek Residensi Baik Art di Rumah Seni Cemeti di Yogyakarta, para seniman membenamkan diri mereka ke dalam warisan kolonial dan kontemporer Indonesia, sambil saling mengkomunikasikan etika kerja dan metodologi mereka yang unik. ‘First Sight in Jogja’ melibatkan penonton dengan serangkaian spektrum dari beragam karya seni yang membingkai gagasan seniman dan upaya bersama. Enam orang peserta, antara lain Marco Rios, Christine Nguyen, Lee Wan, Angki Purbandono, Heri Dono, dan Indieguerillas membawa pengalaman personal mereka dan ajaran hidup kebangsaan untuk dialami di satu tempat. Lanskap spektakuler Indonesia membantu melonggarkan kepercayaan teritorial dan melengkapi penemuan mereka dan tujuan dalam konteks proyek Residensi Baik Art. Sebelumnya, residensi telah menyediakan peluang berharga untuk memamerkan pertukaran artistik dan komunikasi yang melampaui batasan-batasan regional. Dengan harapan untuk menyediakan suatu platform bagi para seniman yang terlibat untuk berbagi pemikiran dan gagasan keseharian mereka, program residensi yang pertama membawa tiga seniman ke Mexico City untuk melihat-lihat dan mengunjungi Sebastian Foundation. Setelah pengalaman ini, masing-masing seniman kembali ke studio mereka untuk merespon perjalanan mereka, mengalihrupakan catatan-catatan menjadi karya seni yang selanjutnya dipamerkan dan dibuat katalog.

Mengikuti struktur dari program yang pertama, program kedua dari Residensi Baik Art diadakan di Seoul dan Pulau Jeju, Korea Selatan, dengan melibatkan lima seniman residensi: Ahmad Zakii Anwar (Malaysia), Kow Leong Kiang (Malaysia), Heri Dono (Indonesia), Han Yong Jin (Seoul), dan Choi Tae Hoon (Seoul). Dipandu oleh Professor Choi Tae Man dari Kookmin University, para seniman berkunjung ke tujuan-tujuan budaya yang penting seperti zona konflik Korea Utara dan Selatan, atau yang dikenal sebagai DMZ (Demilitarized Zone). 

Selama residensi di Indonesia, skena seni Yogyakarta yang aktif tidak hanya memunculkan suatu tahapan budaya yang penting melainkan juga menyediakan suatu pengantar bagi para seniman pada tradisi klasik seni Jawa.Terlebih lagi, waktu yang mereka habiskan selama residensi di Yogyakarta menyingkap cara-cara tertentu dimana seniman kontemporer Indonesia telah mengapropriasi tradisi-tradisi tersebut untuk mengulas pandangan-pandangan pasca-kolonial mereka. Para peserta yang diundang mengikuti residensi bersama sejumlah seniman lokal yang telah dipilih lewat konsultasi dengan Rumah Seni Cemeti. Perbedaan antara tuan rumah, seniman yang berkunjung, dan peserta lainnya dibiarkan cair. Meskipun cara tiap peserta berinteraksi dengan peserta lainnya tidak ditetapkan sebelumnya, jika sang kontributor tidak memiliki medium artistik yang serupa, mungkin mereka memiliki suatu bahasa verbal, kultural, atau sosial untuk dibagi. Jika bukan suatu bahasa, maka residensi menyediakan ruang bagi kemunculan sejarah komunal. 

‘First Sight in Jogja’ adalah sebuah pameran yang merupakan puncak dari pengalaman kolaboratif antara enam seniman internasional yang beragam. Pameran ini bermaksud mendorong tiap seniman supaya terlibat dengan seniman-seniman lainnya yang kurang akrab dan untuk merenungkan sejarah-sejarah yang tak terbatas dan nuansa-nuansa budaya yang telah mereka koleksi dan produksi. Selama proyek Residensi Baik Art di Rumah Seni Cemeti di Yogyakarta, para seniman membenamkan diri mereka ke dalam warisan kolonial dan kontemporer Indonesia, sambil saling mengkomunikasikan etika kerja dan metodologi mereka yang unik. ‘First Sight in Jogja’ melibatkan penonton dengan serangkaian spektrum dari beragam karya seni yang membingkai gagasan seniman dan upaya bersama. Enam orang peserta, antara lain Marco Rios, Christine Nguyen, Lee Wan, Angki Purbandono, Heri Dono, dan Indieguerillas membawa pengalaman personal mereka dan ajaran hidup kebangsaan untuk dialami di satu tempat. Lanskap spektakuler Indonesia membantu melonggarkan kepercayaan teritorial dan melengkapi penemuan mereka dan tujuan dalam konteks proyek Residensi Baik Art. Sebelumnya, residensi telah menyediakan peluang berharga untuk memamerkan pertukaran artistik dan komunikasi yang melampaui batasan-batasan regional. Dengan harapan untuk menyediakan suatu platform bagi para seniman yang terlibat untuk berbagi pemikiran dan gagasan keseharian mereka, program residensi yang pertama membawa tiga seniman ke Mexico City untuk melihat-lihat dan mengunjungi Sebastian Foundation. Setelah pengalaman ini, masing-masing seniman kembali ke studio mereka untuk merespon perjalanan mereka, mengalihrupakan catatan-catatan menjadi karya seni yang selanjutnya dipamerkan dan dibuat katalog.

Mengikuti struktur dari program yang pertama, program kedua dari Residensi Baik Art diadakan di Seoul dan Pulau Jeju, Korea Selatan, dengan melibatkan lima seniman residensi: Ahmad Zakii Anwar (Malaysia), Kow Leong Kiang (Malaysia), Heri Dono (Indonesia), Han Yong Jin (Seoul), dan Choi Tae Hoon (Seoul). Dipandu oleh Professor Choi Tae Man dari Kookmin University, para seniman berkunjung ke tujuan-tujuan budaya yang penting seperti zona konflik Korea Utara dan Selatan, atau yang dikenal sebagai DMZ (Demilitarized Zone). Selama residensi di Indonesia, skena seni Yogyakarta yang aktif tidak hanya memunculkan suatu tahapan budaya yang penting melainkan juga menyediakan suatu pengantar bagi para seniman pada tradisi klasik seni Jawa.Terlebih lagi, waktu yang mereka habiskan selama residensi di Yogyakarta menyingkap cara-cara tertentu dimana seniman kontemporer Indonesia telah mengapropriasi tradisi-tradisi tersebut untuk mengulas pandangan-pandangan pasca-kolonial mereka. Para peserta yang diundang mengikuti residensi bersama sejumlah seniman lokal yang telah dipilih lewat konsultasi dengan Rumah Seni Cemeti. Perbedaan antara tuan rumah, seniman yang berkunjung, dan peserta lainnya dibiarkan cair. Meskipun cara tiap peserta berinteraksi dengan peserta lainnya tidak ditetapkan sebelumnya, jika sang kontributor tidak memiliki medium artistik yang serupa, mungkin mereka memiliki suatu bahasa verbal, kultural, atau sosial untuk dibagi. Jika bukan suatu bahasa, maka residensi menyediakan ruang bagi kemunculan sejarah komunal.