Side Event "Lung"

13 Agustus - 7 September 2008
lung1_web.jpg

Leng 2008, Instalasi Bambu by. Eko Prawoto

Menafsir Sikap Kreatif Eko Prawoto

Pengalaman spiritual, juga hal-hal yang sungguh personal bahkan sebagian yang sosial, bisa diasosiasikan dengan leng. Kata yang semakna dengan lubuk dalam bahasa Indonesia itu adalah ruang natural yang pada dirinya sendiri menyimpan sejumlah paradoks. Ia eksis justru lantaran sesuatu yang absen. Mengada dari yang meniada. Ia mengandaikan keterbatasan sekaligus menyembunyikan ketakterhinggaan, atau ketakterdugaan.


Sesuatu yang mengada sebagai akibat dari hal lain yang meniada sesungguhnya adalah keniscayaan dalam hidup. Dari alam yang kian rusak kita dapat belajar banyak tentang hubungan sebab-akibat itu. Daun luruh demi bunga. Lalu bunga gugur demi buah. Begitu pula dalam budaya, aktivitas manusia, setiap pencapaian mensyaratkan kerelaan atas hilangnya sesuatu. Selalu. Sikap rela atas kehilangan itu bisa juga dimaknai sebagai syarat, tebusan, usaha, pengorbanan.


Medan kreativitas—yang kerap dimaknai sebagai “mengadakan” sesuatu yang “belum ada”—pun tak berjarak dari analogi leng. Seluruh pergulatan proses yang ditempuh sang kreator pada dasarnya adalah hal yang mengada serentak dengan berlangsungnya penerimaan atas kehilangan. Begitu pula karya yang dihasilkannya. Eksistensi yang kausalistis ini selaras dengan kearifan Jawa tentang hubungan integral antara sang pencipta dan si tercipta: ananingsun marga ira, ananira marga ingsung, adaku karena adamu, adamu karena adaku. Sang pencipta dan si tercipta tak terpisahkan dan saling mengadakan.


Dari ruang yang sempit tapi sekaligus tak terduga itu, leng, kita juga menemukan kesetaraan makna dengan kreativitas, yakni: menyadari keterbatasan dan mengolahnya menjadi kekuatan, menjadi sesuatu yang baru dan sering kali tak terduga.


Sebagaimana leng, ceruk yang menyuruk ke dalam, menyadari keterbatasan mensyaratkan sikap in world looking, kesanggupan untuk memandang ke jagat dalam diri. Sampai ke dasar lubuk nurani—ruang imajiner yang kedalamannya bahkan tak tertandingi oleh palung samudera. Tak terduga.


Kreativitas (tindakan) manusia, dengan demikian, menentukan kehadirannya, eksistensinya. Sementara itu, seluruh upaya untuk hadir, mengada, tak lain adalah proyeksi diri yang mengandaikan gerak membesar dan menjalar. Serupa lung, sulur tumbuhan.


Kita tahu, lung merupakan perpanjangan dari pangkal. Kehadirannya menegaskan keberadaan yang pokok dan mendasar. Ia wujud dari kemampuan mengelola plastisitas, bergerak mencari cahaya, namun siap dan ikhlas meliuk lentur jika sesuatu yang kaku dan keras menghadang dan  membentur. Plastisitas itu adalah kesanggupan beradaptasi. Lung menjulur, serupa tangan terulur. Bukan untuk meminta, melainkan memberi. Sebab lung adalah juga sinom, ulam, tanda berlangsungnya regenerasi, kelahiran entitas baru, yang segar dan muda, seperti harapan.


Gerakan lung bukan pemberontakan. Tak mendobrak, tak menghancurkan. Ia adalah kesinambungan, meneruskan yang sudah ada dengan menambah sesuatu yang baru, merawat yang lama dan mungkin lekang dengan kesegaran yang elok dipandang, mengimbangi yang kaku dengan nuansa kelenturan.     


Seorang perenung Jawa, Ki Ageng Suryamentaram, pernah menggunakan lung sebagai perlambang sikap hidup yang adaptatif: genah wayah, empan papan—bagaimana kita membawa dan menempatkan diri secara tepat saat dan tepat tempat. Ajarannya tentang mulur-mungkret,  selain mengandung petuah tentang kemampuan ber-iritabilita, juga bisa ditafsir sebagai sikap skeptis yang selalu mempertanyakan kembali segala yang sudah ada dan yang akan diadakan, demi kematangan pemikiran dan tindakan.


Dalam proses kreatif, mulur-mungkret berarti kesanggupan mengerahkan dan menahan diri. Penciptaan hanya mungkin tercapai dengan mengerahkan kemampuan diri dan, di sisi lain, kreativitas juga mensyaratkan adanya kesadaran atas takaran. Konon, kreasi yang baik adalah yang wajar, yang sesuai takaran. Jika benar demikian, maka kesanggupan menahan diri cukup penting dalam proses kreatif, agar hasrat penciptaan tetap terarah, rendah hati, tak berlebihan.

▪ Sitok Srengenge

Instalasi Bambu Oleh:

Eko Prawoto
Syahrizal Koto
Hedi Hariyanto
Mella Jaarsma
Nindityo Adipurnomo
Iskandar

Tempat: "Senthong Seni Serengenge" Rt.01 Dukuh Bayutemumpang,
Kelurahan Bangunjiwo, Kasihan Bantul

 

 

Anusapati Jogja, indonesia, art house indonesia, lukisan indonesia, proyek Yogyakarta, Melati Suryodarmo Yogyakarta, Mella Jaarsma Yogyakarta, video art Jogjakarta, art books Jogjakarta, seni rupa asia Jogja, gambar Yogyakarta, pameran Jogjakarta, instalasi indonesia, buku seni Jogjakarta, Nindityo Adipurnomo, landing soon Yogyakarta, instalasi Jogjakarta, Krisna Murti Jogja, landing soon Jogja, seni rupa modern Jogjakarta, Tita Rubi Jogja, seniman muda Yogyakarta, drawings Jogja, contemporary art Yogyakarta, Bunga Jeruk indonesia, Seni Rupa kentemporer Jogja, Eko Nugroho Yogyakarta, fine arts Jogja, Tita Rubi indonesia, paintings indonesia, Jogjakarta, Melati Suryodarmo Jogja, Handiwirman Jogjakarta, art house Yogyakarta, tren baru indonesia, proyek seni Yogyakarta, Krisna Murti Jogjakarta, Eko Prawoto Yogyakarta, cemeti Yogyakarta, new art trends indonesia, art residency indonesia, landing soon Jogjakarta, sculptures Jogjakarta, art projects Jogja, drawings Jogjakarta, indonesian art indonesia, video art Yogyakarta, new art Jogja, cemeti Jogja, Terra Bajraghosa Jogja, Jogja, fine arts Yogyakarta, project indonesia, seni kontemporer Jogjakarta, fine art Yogyakarta, pertukaran Jogja, indonesia, Muyono Yogyakarta, Terra Bajraghosa Yogyakarta, visual arts Jogja, Tita Rubi Yogyakarta, contemporary art Jogjakarta, seni kontemporer Yogyakarta, art residency Jogjakarta, fotografi indonesia, art discours Jogjakarta, Nindityo Adipurnomo, FX Harsono Jogja, emerging artists Jogjakarta, art works Yogyakarta, Wimo Ambala Bayang Jogja, Asian artists indonesia, Anusapati Yogyakarta, S. Teddy D. Jogjakarta, new art Yogyakarta, photography indonesia, installation art Jogja, Terra Bajraghosa Jogjakarta, seniman asia Yogyakarta, Seni Rupa kentemporer Jogjakarta, Christine Ay Tjoe indonesia, pameran Jogja, cemeti indonesia, gallery Jogja, sculptures Yogyakarta, FX Harsono, art discours Jogja, art works Jogjakarta, emerging artists indonesia, katalog Jogjakarta, Angki Purbandono indonesia, art exchange Jogjakarta, rumah seni, S. Teddy D. indonesia, buku seni Jogja, art house Jogja, exhibition indonesia, S. Teddy D. Jogja, Seni Rupa Jogjakarta, paintings Yogyakarta, modern art Jogja, art Yogyakarta, wacana seni rupa Jogjakarta, rumah seni, Angki Purbandono Jogja, seniman asia indonesia, Muyono indonesia, Seni Rupa Jogja, art books indonesia, Asian artists Jogja, Wimo Ambala Bayang Yogyakarta, instalasi Yogyakarta, Agus Suwage Yogyakarta, patung Jogjakarta, Mella Jaarsma Jogja, exhibition Yogyakarta, tren baru Jogja, fine art indonesia, Angki Purbandono Jogjakarta, art exchange Jogja, visual arts Jogjakarta, art Jogjakarta, installations Yogyakarta, art exchange indonesia, indonesian art Yogyakarta, seni rupa modern Yogyakarta, art Jogja, visual arts indonesia, Agus Suwage indonesia, Mella Jaarsma Jogjakarta, exhibition Jogja, photography Yogyakarta, Muyono Jogjakarta, lukisan Jogja, fotografi Jogjakarta, Anusapati Jogjakarta, catalogues Yogyakarta, contemporary art Jogja, Terra Bajraghosa indonesia, Angki Purbandono Yogyakarta, Melati Suryodarmo indonesia, new art indonesia, instalasi Jogja, Handiwirman Yogyakarta, gambar Jogja, catalogues indonesia, installation art indonesia, Handiwirman indonesia, art house Jogjakarta, Jogja, wacana seni rupa Jogja, Ruang Seni Jogja, Popok Tri Wahyudi indonesia, rumah seni, patung Yogyakarta, Popok Tri Wahyudi Jogja, seniman asia Jogjakarta, Agus Suwage Jogja, fotografi Yogyakarta, Mella Jaarsma indonesia, pameran Yogyakarta, Eko Nugroho Jogja, sculptures indonesia, Jompet Jogja, seniman asia Jogja, FX Harsono Jogjakarta, drawings indonesia, Handiwirman Jogja, seni rupa modern indonesia, Ugo Untoro Yogyakarta, Galeri Yogyakarta, art discourse indonesia, rumah seni, Popok Tri Wahyudi Yogyakarta, landing soon indonesia, Wimo Ambala Bayang Jogjakarta, tren baru Yogyakarta, Nindityo Adipurnomo, pertukaran Yogyakarta, new art Jogjakarta, Eko Nugroho indonesia, pameran indonesia, Eko Nugroho Jogjakarta, proyek seni Jogja, Ugo Untoro Jogjakarta, contemporary art indonesia, katalog indonesia, Christine Ay Tjoe Jogjakarta, cemeti Jogjakarta, seniman muda Jogja, Jogjakarta, cemeti Jogja, pertukaran indonesia, emerging artists Jogja, seni instalasi indonesia, sculptures Jogja, Tita Rubi Jogjakarta, seni instalasi Yogyakarta, video art indonesia, patung Jogja, video art Jogja, Ruang Seni Jogjakarta, new art trends Yogyakarta, paintings Jogjakarta, installations Jogjakarta, seni instalasi Jogjakarta, emerging artists Yogyakarta, seni kontemporer Jogja, Christine Ay Tjoe Jogja, Galeri indonesia, art space Yogyakarta, Eko Prawoto Jogjakarta, seni instalasi Jogja, tren baru Jogjakarta, gambar Jogjakarta, Galeri Jogja, new art trends Jogjakarta, new art trends Jogja, modern art Jogjakarta, gerakan seniman muda Jogja, installations Jogja, Krisna Murti Yogyakarta, art discours Yogyakarta, art exchange Yogyakarta, installation art Yogyakarta, modern art indonesia, Jompet Yogyakarta, Jompet indonesia, art projects indonesia, installations indonesia, Seni Rupa Yogyakarta, seniman muda Jogjakarta, Bunga Jeruk Yogyakarta, Ugo Untoro Jogja, Jompet Jogjakarta, art residency Jogja, Popok Tri Wahyudi Jogjakarta, art space indonesia, gallery indonesia, buku seni Yogyakarta, Agus Suwage Jogjakarta, Wimo Ambala Bayang indonesia, buku seni indonesia, art projects Jogjakarta, fine art Jogjakarta, cemeti Jogjakarta, Christine Ay Tjoe Yogyakarta, cemeti Yogyakarta, seni kontemporer indonesia, gambar indonesia, paintings Jogja, modern art Yogyakarta, Nindityo Adipurnomo, indonesian art Jogjakarta, proyek Jogjakarta, Eko Prawoto Jogja, proyek seni Jogjakarta, photography Jogjakarta, wacana seni rupa Yogyakarta, indonesia, seni rupa asia Yogyakarta, photography Jogja, drawings Yogyakarta, proyek Jogja, project Jogjakarta, Seni Rupa kentemporer indonesia, S. Teddy D. Yogyakarta, cemeti indonesia, Seni Rupa indonesia, seni rupa asia Jogjakarta, Asian art Jogjakarta, Asian art Yogyakarta, Melati Suryodarmo Jogjakarta, art space Jogja, proyek seni indonesia, fotografi Jogja, art residency Yogyakarta, catalogues Jogja, Krisna Murti indonesia, patung indonesia, seni rupa asia indonesia, Asian art Jogja, art projects Yogyakarta, proyek indonesia, Bunga Jeruk Jogjakarta, gerakan seniman muda Yogyakarta, Yogyakarta, Ugo Untoro indonesia, gerakan seniman muda, catalogues Jogjakarta, Anusapati indonesia, exhibition Jogjakarta, fine art Jogja, gallery Jogjakarta, indonesia, FX Harsono Yogyakarta, gallery Yogyakarta, Asian art indonesia, art works Jogja, Ruang Seni indonesia, art books Yogyakarta, Galeri Jogjakarta, Eko Prawoto indonesia, Yogyakarta, pertukaran Jogjakarta, visual arts Yogyakarta, lukisan Yogyakarta, art space Jogjakarta, seni rupa modern Jogja, wacana seni rupa indonesia, seniman muda indonesia, Muyono Jogja, Ruang Seni Yogyakarta, project Jogja, art works indonesia, fine arts indonesia, gerakan seniman muda Jogjakarta, Asian artists Jogjakarta, Asian artists Yogyakarta, Bunga Jeruk Jogja, indonesian art Jogja, art books Jogja, project Yogyakarta, lukisan Jogjakarta, installation art Jogjakarta, katalog Jogja, art indonesia, fine arts Jogjakarta, katalog Yogyakarta, Seni Rupa kentemporer Yogyakarta